|
Jakarta, Kompas - Persaingan harga atau premi di industri asuransi hanya akan saling menghancurkan. Untuk menghadapi globalisasi, bukan persaingan premi yang dibutuhkan, melainkan industri asuransi harus meningkatkan kreativitas dan inovasi.
Demikian diungkapkan Ketua Umum Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia Evelina F Pietruschka dalam "Roundtable Summit: Strategic Direction of Indonesian Insurance Industry Towards 2015" di Jakarta, Rabu (21/4).
Dia menjelaskan, tahun 2015 Indonesia akan menjadi bagian dari ASEAN Community. Terkait dengan hal itu, industri asuransi Indonesia akan menghadapi tantangan dalam persaingan dengan industri asuransi asing, terutama dalam hal pelayanan.
Pada tahun 2015 ditargetkan premi asuransi akan mencapai Rp 500 triliun. "Saat ini tidak ada lagi proteksi dari pemerintah terhadap industri asuransi. Dengan demikian, industri asuransi perlu kreatif dan inovatif dalam menawarkan produk, khususnya asuransi jiwa," tutur Evelina.
Menurut Evelina, penetrasi asuransi jiwa di Indonesia sangat kecil, yakni hanya 7 persen. Padahal, penduduk Indonesia relatif sangat besar.
"Ini karena kesadaran masyarakat dalam membeli jaminan produk kesehatan belum besar," ujar Evelina.
Potensi besar Menurut Presiden Direktur Asuransi Jiwa In Health Indonesia Rosa Christina Ginting, sebenarnya potensi asuransi jiwa di Indonesia sangat besar. Potensi yang besar itu, antara lain, di industri asuransi kesehatan.
Kondisi kualitas kesehatan masyarakat Indonesia saat ini, menurut Rosa, masih terdapat banyak masalah. Ditengarai penyebab kematian yang sangat tinggi di Indonesia, antara lain, adalah penyakit jantung, kecelakaan, dan penyakit karena infeksi.
Di sisi lain, lanjut Rosa, masyarakat seolah tidak berdaya menghadapi masalah kesehatan. Masyarakat membutuhkan pengelolaan kesehatan yang baik. Apalagi, masih ada rumah sakit yang kerap melakukan perawatan secara berlebihan.
"Ini, misalnya, dilakukan mulai dari pengujian medis, perawatan, hingga pemberian obat," tutur Rosa.
Menurut Presiden Direktur Asuransi Cigna Christine Setyabudhi, dalam melakukan terobosan meraih pasar industri, asuransi bisa bermitra dengan perbankan.
Kepala Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) Fuad Rachmany berpendapat, integritas dalam pengembangan industri di Indonesia masih lemah. Ini termasuk industri asuransi.
Menurut Fuad, Bapepam-LK saat ini sedang menyiapkan aturan yang mengatur masalah-masalah yang terkait dengan produk investasi yang diselenggarakan oleh industri asuransi.
Data Beda and Company menunjukkan, sebanyak 10 perusahaan asuransi jiwa teratas di Indonesia tahun 2008 menguasai 70 persen pasar. Adapun total premi yang diperoleh 10 perusahaan asuransi jiwa tersebut Rp 36,117 triliun.
Sementara itu, sebanyak 18 perusahaan asuransi umum teratas menguasai 70 persen pangsa pasar dan meraih total premi Rp 16,314 triliun.
(KOMPAS-OSA) BAJ-News Service, 22-04-2010 by: hanny. |